Tanggal 27 November 2007, merupakan hari yang istimewa buat aku. Aku diterima kerja di suatu perusahaan freight forwarder sebagai customer service, dibandingkan teman-temanku kuliah aku termasuk yang bernasib mujur, sebelum diwisuda aku udah diterima kerja di beberapa tempat. Tapi, dengan pertimbangan harus menyelesaikan Gelar Apoteker aku tetap memilih kerja di Kota Solo, meskipun ada pekerjaan yang lebih menjanjikan di Jakarta (awal februari 2008 aku kudu mulai kuliah lagi).
Ketika aku masuk diperusahaan itu, yang aku tahu banyak sekali sainganku yang melamar pada posisi customer service, sekitar 150an orang, dan yang paling mengejutkan aku, yang diterima hanya satu orang, yaitu AKU!!
Setelah kurang lebih seminggu kerja, aku tahu bahwa saingan ku melamar pada waktu itu ternyata berasal dari berbagai PTN-PTS di Jateng DIY, ada yang dari UNS, UII, UGM, UNY, STIE YKPN dll. Secara manusia aku sangat minder ketika tahu background pendidikan saingan-sainganku, secara aku lulusan PTS yang namanya agak kurang menggaung hehehehe…..
Hatiku agak terusik ketika salah satu teman kost nyeletuk, “kowe opo ora mesakke karo saingan-sainganmu sing bener-bener butuh kerjo? Kowe kan kerjo nggo ngisi waktu luang sakdurunge kuliah apoteker thok?”. Terus terang semalaman aku ga bisa tidur, apalagi setelah ingat salah satu lamaran kerja dari sainganku yang lulusan FISIPOL UNDIP, masnya udah berumur 27 tahun! Jauh 5 tahun di atasku. Aku mikir, pasti masnya itu lebih butuh kerjaan ini daripada aku. Aku merasa berdosa! Bener-bener berdosa!
Setengah bulan aku kerja, ada dua orang mahasiswi D3 penerbangan yang magang ditempat aku kerja…
Awalnya aku sok cuek ama mereka, tapi lama-lama setelah agak lebih kenal jadi sering becanda dan makan siang bareng ama mereka.
Salah satu dari mereka bernama Michelia, secara ga sengaja dia curhat ke aku masalah keluarganya…..
Kedua orang tuanya bercerai ketika dia masih kecil, yang kemudian hari diketahuinya ayahnya telah mempunyai seorang anak laki-laki yang seumuran dengan dia which is ketika ibu Michelia mengandung ayahnya juga sibuk “menabur benih di ladang lain”. Michelia sendiri baru mengetahui jati diri bapaknya ketika ibunya sakit keras. Itupun yang memberitahu bukan dari kerabatnya, melainkan dari teman-teman kerja ibu dan bapaknya (ibu dan bapak Michelia bekerja di satu kantor).
Singkat kata Michel (panggilan akrabnya) berhasil menemui bapaknya. Alih-alih mendapat pelukan hangat seorang bapak, yang didapatkannya adalah kata-kata yang kurang mengenakkan,
“kenapa kamu menemui bapak??”
“”ibu sakit pak….”
“gini ya nduk, memang bapak dulu pernah bersama ibumu, tapi itu dulu… sekarang bapak udah punya keluarga yang kudu bapak urusi… B*G*S anak bapak minta motor… jadi kamu bapak harap ngerti kondisi bapak.. satu hal lagi jika kelak kamu menikah atau apapun kesempatan penting dalam hidupmu jangan pernah berharap bapak datang…”
Mendengar cerita Michel, hatiku ikut sakit. Aku membayangkan jika hal itu terjadi dalam hidupku. Sekarang Michel hidup sendiri… setiap bulan dia mendapat jatah uang pensiunan ibunya (ibu Michel meninggal tak lama setelah Michel menemui bapaknya) sebesar 500 ribuan… jelas tidak cukup untuk hidup kos dan makan di Kota Solo.
Aku kemudian bertanya pada Tuhan, apa ini rahasia yang Dia maui dalam hidupku?? Aku dibuatnya mengisi terlebih dulu posisi Customer Service di perusahaan itu, untuk kemudian Dia serahkan posisi itu untuk Michel… Michel yang lebih membutuhkan dibandingkan Mas llulusan FISIPOL UNDIP yang berumur 27 tahun tadi… Michel yang memang pendidikannya banyak mendapat pelajaran tentang freight forwarder… Michel yang memang dipilihNya untuk bekerja disitu…
Akhirnya, dengan perasaan penuh kagum akan Dia Yang Maha Segalanya… Malam ini aku akan mengajukan pengunduran diri kepada Managerku…