Fatwa Haram Merokok

Agustus 16, 2008

Kemarin malem dapet SMS dari Mas Pau, dia bilang gini:

“Aku kok sebel sama wacana rokok haram. Ini hanya menggunakan agama sebagai alat ’politik’ bisnis”.

Agak kaget juga coz biasanya Mas Pau ga pernah komen macem2 about Islam. Kalo buat aku pribadi rokok emang haram, ada beberapa alasan yang aku pake dalam ”haram”nya rokok. Pertama seperti halnya haramnya khamr, pada ayatnya disebutkan bahwa khamr itu ada manfaatnya tetapi lebih banyak mudharatnya. Lha, untuk kasus rokok, buat aku pribadi, ga ada manfaat yang dapat diambil. Kalo khamr emang terbukti kalo dikonsumsi secara teratur dalam jumlah yang terukur dia akan berfungsi sebagai obat (anggur merah) bahkan dalam Pharmacope Belanda edisi V banyak sekali sediaan obat yang berawalan ”VINUM” (dibuat dari dan atau mengandung anggur/alkohol) Rokok blas ga ada manfaatnya kecuali manfaat impotensi bagi yang mau hidup selibat hihihihi…

Secara hitam putih, wacana MUI untuk mengharamkan rokok memang sudah benar, tapi kiranya perlu dipertimbangkan aspek-aspek non teologis. Berapa banyak petani tembakau yang akan bangkrut (bahkan takut menanam tembakau, karena implikasi ”haram” adalah dosa bagi yang mengadakannya), berapa banyak tenaga kerja akan di PHK dari ribuan pabrik rokok. Selain itu bahaya disintegrasi ummat Islam semakin membayang jelas, banyak para Ulama/Kyai yang juga perokok berat (istilah pondoknya ahli hisab hehehehe..), dan timbulnya penentangan dari kalangan ulama sendiri udah mulai terlihat jelas ketika ada dialog di Apa Kabar Indonesia Pagi-nya TvOne. Pada saat itu KH Nur Iskandar SQ (Ulama Kharismatik NU) berdialog seru dengan salah satu anggota MUI.

Perlu diingat, Lembaga MUI di Indonesia berbeda dengan lembaga Qodhi yang dulu disebut2 dalam kitab2 Fiqh seperti Matnul Ghoyh Wattaqrib, Fathul Mu’in dll, lembaga Qodhi jaman dulu merupakan representasi dari hukum positif (thus hukum islam yang dianut) yang keberadaanya merupakan hasil penunjukan Khalifah jaman itu dari kualifikasi ulama Islam yang benar2 digelari ”Syekh”. Berbeda dengan MUI yang anggotanya merupakan semacam Orang2 yang dikirim oleh masing2 Ormas Islam sehingga membentuk semacam ”fraksi”. Dan masih perlu dipertanyakan kualitas keilmuannya. Dan yang paling penting adalah MUI bukan merupakan representasi hukum positif yang dianut oleh negara kita.

Sebagai pribadi aku memandang wacana fatwa haram merokok ini sebagai langkah maju bagi MUI, dibandingkan fatwa2 sesat dan fatwa2 lain yang ga mutu. Tinggal bagaimana MUI menguatkan hujjah dan dalil yang dipake supaya dapat melawan serangan Kyai2 ”Ahli Hisab”. Sekarang aku menunggu fatwa ”HARAM” bagi pengiriman TKW ke luar negeri. Kira-kira MUI berani ga ya?? Hehehehe….

From Glory to Glory

Agustus 13, 2008

Dulu pernah disuruh bapak aku buat ganti simcard agar sama ama semua orang rumah, sama kayak bapak, ibu, ponakan, ning and mas nasir. Tapi aku tetep ngeyel pake nomer aku yang sekarang, banyak alasan yang aku sampaikan pada bapak, tapi yang paling mantep adalah:

“ganti nomer bs nutup rejeki”.

Akhir juli kemarin pernyataanku terbukti, pas aku lagi ngelayanin resep di rumah sakit ada sms dari nomer baru yang masuk:

“riza kapan ke kampus? cpt temui saya ya? pak muh”.

ternyata sms dari dosen pembimbing aku, terus aku jawab:

“kemungkinan tgl 6 agustus pak, wonten nopo nggih??”

“ada peluang S2 ke malaysia.. mau??

Tanggal 2 agustus aku ketemu dosenku itu (smangat!), beliau langsung nunjukin print out sebuah email, ternyata tawaran beasiswa itu berasal dari UiTM (universiti teknologi mara) di selangor, perbulan dapet 1000 RM, biaya kuliah 2700 RM. Langsung aku sms Mas Pau (*secara dia yang sering ke malaysia) aku tanya berapa biaya hidup di selangor, kira2 700 RM gitu jawabnya. Duh.. cmn sisa 300 RM buat bayar SPP.  Sms bokap di rumah nanya kesanggupan nambahi uang SPP, jawaban sms bapak cukup mbuat hatiku mencelos:

“Gaji bapak ga cukup le, kerja dulu aja”

Beugh.. kecewa banget! Aku langsung bilang ke dosenku bahwa aku ga bisa terima tu beasiswa.. Bapaknya bilang, berangkat aja, malaysia deket lho.. cmn 2 jam dari solo. Kalo masalah beasiswa, gampang tu, gitu bilangnya bapaknya. Tapi, aku tetep ketar-ketir, aku bilang ke beliau, “saya pikir2 dulu pak”.

Malemnya ketemu si Riri, curhat. Dia bilang “berangkat aja! mumpung ada kesempatan!” aku bilang aku ga bisa… Ehh, malah dianya yang sewot, “py to?? udah dikasih kesempatan bagus malah disia2in!” (*anak ini agak kurang ngeh ama aku, kalo ga cantik udah aku tampar dia )

Pas mau tidur aku sms bapak lagi, minta ijin buat berangkat, tapi tetep aja ga diijinin :( ..

Aku trus ngomong.. Gusti kalo kali ini Engkau sanggup membukakan sesuatu yang tidak pernah terlintas dalam pikiranku, aku percaya Engkau pula yang akan menciptakan hidup yang luar biasa dalam diriku.

Amien dah….

Bule

Juli 26, 2008

Namanya Riyanti, umur 38 tahun dan belum menikah. Dia bekerja di Rumah Sakit tempat aku magang. Karena dia masih tinggal dengan bapak ibunya tiap hari dia pulang-pergi Cilacap-Purwokerto, pagi sampai di Purwokerto jam 8, pulang sekitar 4 sore.

Tetapi ketika pulang biasanya dia tidak langsung menuju ke rumah. Tetapi mampir dulu ke warnet dan kemudian chatting. Riyanti ini memiliki spesifikasi khusus ketika mencari teman ngobrol di chatting, KHUSUS PRIA-PRIA BULE. Memang alasan mengapa dia sampai umur 38 ini belum menikah adalah karena dia terobsesi untuk menikah dengan pria-pria bule. Entah mengapa, alasan pastinya akupun kurang tahu, tapi selalu saja ketika ada- terutama teman-teman dari jogja- dia akan selalu dengan penuh semangat bercerita tentang pria-pria bule tersebut dan menanyakan apa saja kebiasaan orang-orang seberang tersebut ketika berada di jogja. Bahkan ketika aku bercerita bahwa di Solo banyak juga bule-bule muda yang pake sepeda onthel yang biasanya berseliweran di sore hari (kata seorang temen ini para evangelist dari sekte mormon, tapi bener ga nya aku juga ga tahu) dengan antusias dia meng-interview aku. Seneng juga sih ketika dia meng-interview aku, matanya berbinar-binar, ada tanda kehidupan di sana.

Sebenarnya sudah sering teman-teman kerja Riyanti menasehati dia untuk segera menikah mengingat umurnya yang sudah mendekati kepala empat. Tapi selalu saja dia menjawab nya dengan cara bicaranya yang khas (bahasa jawa + Indonesia dengan logat banyumasan), «sebenarnya sudah banyak calon yang antri menikah dengan aku, tapi aku belum menemukan yang aku cari ».

***

Orang-orang Hindu di India menggambarkan Dewa-Dewi yang mereka puja dengan sosok pria dan wanita berambut ikal dan berkulit kuning langsat, dan sering kali pula di gambarkan Dewa-Dewa mereka merupakan sosok pria muda yang tidak berjenggot dan dapat dikatakan memiliki kulit yang smooth..

Orang-Orang Tiong Hua menggambarkan Dewa-Dewa yang mereka puja dengan sosok laki-laki yang biasanya memiliki jenggot panjang dan tak jarang pula memiliki kumis yang tak kalah panjang dengan jenggotnya.

Seperti yang kita mafhum bersama, secara genetis orang-orang India umumnya memiliki kulit berwarna gelap dan tubuh mereka (yang laki-laki) penuh ditumbuhi oleh bulu. Sedangkan orang-orang Tiong Hua sepreti yang kita ketahui umumnya jarang memiliki banyak bulu di tubuhnya terutama untuk kemungkinan memiliki jenggot panjang, sangat jarang ditemui pada orang-orang Tiong Hua (jadi ingat guyonannya VJ Daniel dengan VJ Mike-yang berjenggot-, Daniel menanyakan ke Mike bagaimana rasanya punya jenggot yang kemudian di timpalinya dengan kata-kata, « seumur hidup, gue ga akan pernah merasakan kayak gitu ».)

Yang sangat menarik adalah ketika secara naluri orang-orang India dan Tiong Hua, menggambar kan Para Dewa (sosok yang mereka anggap luar biasa, sosok yang mereka kagumi) dengan gambaran yang sama sekali berbeda dengan keadaan fisik mereka. Kayaknya Mbak Riyanti ini mengalami sindrom yang sama dengan mereka.

BBM

Juli 22, 2008

Selama aku PKL di RS Margono ada dua kejadian yang berhubungan dengan bau.

Kejadian pertama ketika aku konsultasi tugas dengan apoteker senior yang memanggil aku dengan sebutan “kang” (naksir banget ga sih dia… hehehehe). Tanpa tedeng aling-aling dia bilang padaku di depan 2 orang temanku,

“belajar sikat gigi yang benar ya?! Bau mulutmu mengganggu!”.

Sumpah pengin rasanya ngeblows her face! Malu banget aku, apalagi di depan 2 temanku. Tapi untungnya kedua-duanya nyantai aja atas omongan seniorku tadi. Malah yang satu bilang “senior kita tu emang keterlaluan! Mbok ya ga bilang gitu…”. Hehehehe.. tapi positifnya aku langsung beli mouthwash sore itu. :p

Kejadian kedua adalah tanggal 21 Juli 2008, seorang cewek temen PKL beda kelompok secara ga sengaja mendekat padaku karena bertanya tentang suatu hal. Secara refleks otot-otot gastro intestinalku merasakan langsung berpuat-putar, “eneg” banget rasanya. Luar biasa bau badan cewek itu bener-bener seperti bau got! Sumpah! Dua kali dia mendekat ke aku, kejadian itu pertama kali dia mendekat ke aku, untuk yang kedua aku jaga jarak dengan dia. Jaga-jaga biar ga muntah. *(njijiki banget! Cewek kok bau!)

Belajar dari situ, emang BBM (bau badan dan mulut) dan bau-bau lain yang berasal dari tubuh kita emang penting banget. Percuma pinter kalo bau mulut! Percuma cakep kalo bau badan kayak bau kambing kurban!

(kayaknya bulgari aqua and kenzo kudu beli lagi neh..)

kenapa mereka benci padaku

Juli 19, 2008

haduh… beberapa hari ini repot berurusan ama orang-orang kampus. cap “pseudo muslim” bikin aku terus aja di curigai.. plis deh.. yang penting kan omongannya?? bukan sapa yang ngomong??

males banget berurusan ama orang-orang goblok!

Kalau Gusti sing Ngersakke…

Januari 28, 2008

Tanggal 27 November 2007, merupakan hari yang istimewa buat aku. Aku diterima kerja di suatu perusahaan freight forwarder sebagai customer service, dibandingkan teman-temanku kuliah aku termasuk yang bernasib mujur, sebelum diwisuda aku udah diterima kerja di beberapa tempat. Tapi, dengan pertimbangan harus menyelesaikan Gelar Apoteker aku tetap memilih kerja di Kota Solo, meskipun ada pekerjaan yang lebih menjanjikan di Jakarta (awal februari 2008 aku kudu mulai kuliah lagi).

 

Ketika aku masuk diperusahaan itu, yang aku tahu banyak sekali sainganku yang melamar pada posisi customer service, sekitar 150an orang, dan yang paling mengejutkan aku, yang diterima hanya satu orang, yaitu AKU!!

 

Setelah kurang lebih seminggu kerja, aku tahu bahwa saingan ku melamar pada waktu itu ternyata berasal dari berbagai PTN-PTS di Jateng DIY, ada yang dari UNS, UII, UGM, UNY, STIE YKPN dll. Secara manusia aku sangat minder ketika tahu background pendidikan saingan-sainganku, secara aku lulusan PTS yang namanya agak kurang menggaung hehehehe…..

 

Hatiku agak terusik ketika salah satu teman kost nyeletuk, “kowe opo ora mesakke karo saingan-sainganmu sing bener-bener butuh kerjo? Kowe kan kerjo nggo ngisi waktu luang sakdurunge kuliah apoteker thok?”. Terus terang semalaman aku ga bisa tidur, apalagi setelah ingat salah satu lamaran kerja dari sainganku yang lulusan FISIPOL UNDIP, masnya udah berumur 27 tahun! Jauh 5 tahun di atasku. Aku mikir, pasti masnya itu lebih butuh kerjaan ini daripada aku. Aku merasa berdosa! Bener-bener berdosa!

 

Setengah bulan aku kerja, ada dua orang mahasiswi D3 penerbangan yang magang ditempat aku kerja…

Awalnya aku sok cuek ama mereka, tapi lama-lama setelah agak lebih kenal jadi sering becanda dan makan siang bareng ama mereka.

Salah satu dari mereka bernama Michelia, secara ga sengaja dia curhat ke aku masalah keluarganya…..

 

Kedua orang tuanya bercerai ketika dia masih kecil, yang kemudian hari diketahuinya ayahnya telah mempunyai seorang anak laki-laki yang seumuran dengan dia which is ketika ibu Michelia mengandung ayahnya juga sibuk “menabur benih di ladang lain”. Michelia sendiri baru mengetahui jati diri bapaknya ketika ibunya sakit keras. Itupun yang memberitahu bukan dari kerabatnya, melainkan dari teman-teman kerja ibu dan bapaknya (ibu dan bapak Michelia bekerja di satu kantor).

 

Singkat kata Michel (panggilan akrabnya) berhasil menemui bapaknya. Alih-alih mendapat pelukan hangat seorang bapak, yang didapatkannya adalah kata-kata yang kurang mengenakkan,

 

“kenapa kamu menemui bapak??”

 

“”ibu sakit pak….”

 

“gini ya nduk, memang bapak dulu pernah bersama ibumu, tapi itu dulu… sekarang bapak udah punya keluarga yang kudu bapak urusi… B*G*S anak bapak minta motor… jadi kamu bapak harap ngerti kondisi bapak.. satu hal lagi jika kelak kamu menikah atau apapun kesempatan penting dalam hidupmu jangan pernah berharap bapak datang…”

 

Mendengar cerita Michel, hatiku ikut sakit. Aku membayangkan jika hal itu terjadi dalam hidupku. Sekarang Michel hidup sendiri… setiap bulan dia mendapat jatah uang pensiunan ibunya (ibu Michel meninggal tak lama setelah Michel menemui bapaknya) sebesar 500 ribuan… jelas tidak cukup untuk hidup kos dan makan di Kota Solo.

 

Aku kemudian bertanya pada Tuhan, apa ini rahasia yang Dia maui dalam hidupku?? Aku dibuatnya mengisi terlebih dulu posisi Customer Service di perusahaan itu, untuk kemudian Dia serahkan posisi itu untuk Michel… Michel yang lebih membutuhkan dibandingkan Mas llulusan FISIPOL UNDIP yang berumur 27 tahun tadi… Michel yang memang pendidikannya banyak mendapat pelajaran tentang freight forwarder… Michel yang memang dipilihNya untuk bekerja disitu…

 

Akhirnya, dengan perasaan penuh kagum akan Dia Yang Maha Segalanya… Malam ini aku akan mengajukan pengunduran diri kepada Managerku…

Bingung…

Januari 28, 2008

Tadi mau bilang ama Pak Tony (Bos aku) kalo aku mau resign dari kerjaan. Tapi, ga bisa ngomong aku…

Kayaknya sekarang aku tambah ga tegas aja! Susah!!!!

Kersaning Allah….

Januari 24, 2008

Susah banget kalo udah urusan ama perasaan…

Hari ini harusnya bilang mau out dari kerjaan.. Tapi perasaan ga enak, secara udah baik banget ama temen-temen kerja yang lain.

Akhirnya, cuman bisa bilang… Kersaning Allah mawon! 


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.